Salam, untuk dunia yang sedang sakit karena hilangnya nurani. Sungguh kemajuan materi telah mengaburkan pandangan seorang insan dari sang Khalik, disaat kita tertawa ceria di penjuru lain seorang anak menangis karena derita yang tak semestinya mereka tanggung. Bila saja dunia tak terbuka begitu luas seperti ketika Adam dan Hawa berjalan di taman Firdaus tentulah rintihan penduduk negeri akan terlupakan dari kisah perjalanan hari. Beban kini begitu berat dipikul oleh umat manusia namun kesenangan telah melupkan segala janji dihadapan Illahi, kini lebaran kitab suci telah tertutup rapat dan mereka para durjana yang selalu lahir ke dunia ini kembali dengan kedegilan mereka, segala kalam yang begitu tulus penuh cinta teralunkan mereka kotori dengan kepicikan. Bila dulu para penghujat berdiri dengan kegagahan maka kini mereka duduk diatas singgasa di depan pemuja penuh kecongkakan. Jauh dari negeriku Nusantara telah keluar seorang pendusta, nenek moyangnya dulu menganiaya para leluhurku karena ego mereka yang seakan membawa mereka terbang kelangit. Kini diantara keturunan mereka telah duduk manis diatas mimbar wakil rakyat mereka dengan kecongkakan menyeru kepada dunia bahwa kami yang teraniaya dan penyebar benih cinta kedamaian dan keselamatan adalah para perusuh yang tak memiliki nurani. Negerinya begitu kecil namun kedegilannya tidak sekecil negerinya, tanahnya begitu datar hingga air laut mereka sapu dengan sebuah kincir namun kerendahan akhlaknya melibihi kerendahan akhlak makhluk apapun didunia ini, negerinya begitu sombong dan tak dapat melihat hati nurani.
Suaraku adalah suara penuh cinta dan seruan kepada dunia yang begitu renta, Marilah Tuan Wilders yang tuna duduk bersama kami penduduk negeri karena akan aku ajari kau dengan kelembutan yang telah kau bohongi dengan hasratmu. Sungguh akupun menangis ketika dunia melihat penderitaan orang-orang yang berada dibalik reruntuhan gedung karena ulah mereka yang bukan bagian dari kami, namun tangiskupun begitu pedih karena penderitaan oleh kejahatan yang terselubung oleh jerat tipu muslihatmu.
Bila kau rasakan belaian mentari pagi yang keluar di ufuk timur tentu kau akan keheranan dengan segala ulahmu selama ini dan penyesalan yang kau rasakan akan memenjarakanmu dalam penderitaan yang teramat dalam
Kamis, 03 April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
